Ad. 5. Ikhlas
Pada umumnya, orang mengatakan ikhlas, kalau sudah terlanjur kehilangan sendiri, memberikan sesuatu.
Dalam laku ini, yang dimaksud Laku Ikhlas, adalah :
Setiap saat, menyadari sepenuhnya, bahwa segala yang ada pada dirinya, seperti kepandaian, pengalaman, kemampuan karena kekuasaan atau kekayaan yang dimiliki, tenaga, pikiran, waktu, bahkan orang-orang yang dicintai, semuanya adalah milik Tuhan Yang Maha Esa.
Maka, setiap saat siap, apabila semua yang ada pada dirinya itu, dikehendaki Pemiliknya, Tuhan yang Maha Esa, mau digunakan untuk sesuatu.
Kehendak Tuhan itu, diketahuinya melalui Hidup yang ada pada dirinya.
Jadi, ikhlas tidak hanya kalau kehilangan atau memberi, tetapi juga ikhlas menerima apapun.
Misalnya, seseorang, oleh Presiden, diangkat menjadi Menteri Kesehatan. Dia menerimanya sebagai kehendak Tuhan, yang disampaikan melalui Presiden, bahwa dirinya dipercaya untuk menyehatkan 180 juta rakyat Indonesia. Jadi, keadaan kesehatan seluruh rakyat, harus dia pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Dia harus narimo dan ikhlas menerima beban, tugas dan kewajiban itu. Sama sekali tidak memandang dari segi kekuasaan, kehormatan, penghasilan yang didapatnya. Itu tidak kekal. Tetapi kalau dia bisa menjalankan kewajibannya yang diberikan Tuhan dengan baik, berarti dia melangkah lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Ini akan lebih kekal akibat atau hasilnya.
Kalau seseorang diberi kekayaan melimpah, jauh melebihi kebutuhannya, dia harus Narimo dan Ikhlas menerima, bahwa dirinya diberi tugas yang lebih besar bagi kesejahteraan, kebahagiaan sesamanya.
Kalau seseorang diberi kepandaian lebih dari sesamanya, dia harus Narimo dan Ikhlas mendapatkan tugas memberikan kepandaiannya itu kepada sesamanya. Dan bukan untuk menguasai sesamanya.
Semua kelebihan yang diberikan itu harus digunakan dengan tepat. Hidup yang tahu, untuk apa dan siapa.
Kalau tidak, maka apabila saatnya datang, Hidupnya tidak akan bisa langsung kembali kepada Tuhan, karena masih ada beban yang tertinggal.
|